Motivasi Berprestasi

OPTIMALISASI MOTIVASI BERPRESTASI

DENGAN MODEL ARIAS

IMAM AZHAR

 

Pendahuluan

Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.

Motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai terwujud.

 

Dalam konteks pembelajaran, motivasi berperan penting sangat penting. Karena itu, proses pembelajaran harus bisa ditampilkan semenarik mungkin dan melibatkan semua potensi peserta didik. Dengan tergugahnya motivasi peserta didik, niscaya mereka akan berupaya sebisa mungkin untuk meraih prestasi yang didambakan.

Dalam kajian teori psikologi belajar, salah satu upaya untuk dapat meningkatkan gairah dan semangat peserta didik dalam belajar sehingga memiliki motivasi berpretasi tinggi adalah dengan mengaplikasikan model ARCS (Keller, 1987) yang dimodifikasi menjadi ARIAS (Moris, 1995) dalam proses pembelajaran.


 

PEMBAHASAN

  1. A.      Konseptualisasi Model Pembelajaran ARIAS

Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp dalam Morris (1995) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu.

Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori psikologi belajar dan pengalaman nyata para instruktur. Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran.

Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa (Slavin, 1994; 2004). Moris (1985) berargumentasi, bahwa mengingat peran pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ARCS dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.

Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence. Model modifikasi ARCS ini dikenal dengan akronim ARIAS (Morris, 1985).

Dalam implementasi model pembelajaran ini, guru diharapkan tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri (self confidence) siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil.

Lebih detail dapat dijelaskan alasan-alasan kenapa modifikasi ini dilakukan. Menurut Moris (1985), penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction, sehingga menjadi (ARIAS).

Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement).

  1. B.       Implementasi Komponen Model Pembelajaran ARIAS

Seperti yang telah dikemukakan, model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat dan implementasi masing-masing komponen yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

Komponen pertama model pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil. Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan Briggs (1979) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut.

Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan. Siswa yang memiliki sikap percaya diri dan memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus. Karenanya, sikap percaya diri dan yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah:

  1. Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Diantara beberapa cara menanamkan gambaran positif kepada siswa adalah dengan menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara dan memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model). Penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu disamping untuk menanamkan sikap percaya diri (Martin & Briggs, 1986; Gagne & Briggs, 1979; Pajeras, 2004).
  2. Menggunakan suatu patokan atau standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa ‘kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku’). Dalam peace of Mind, proses ini disebut ‘hegemoni’ pikiran bawah sadar, dan dalam hypnoteaching disebut sugesti positif (McGregor, dalam Novian, 2010).
  3. Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya. Proses ini merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa. (Reigeluth & Curtis dalam Gagne, 1987; Bloom dalam Slavin, 1994)
  4. Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan atau berangsur menjadi Self-Regulated Learner (Slavin, 1994).

Komponen kedua model pembelajaran ARIAS adalah relevance, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang. Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan serta akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka (Contextual), dan memiliki tujuan dan mafaat yang jelas (AMBAK).

Dengan tujuan dan manfaat yang jelas, mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu, sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali (Gagne & Briggs, 1979; Johnson, 2002; DePorter, 1999).

Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah:

  1. Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut (Merrill dalam Reigeluth, 1983).
  2. Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang (DePorter, 1999).
  3. Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai-nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Johnson, 2002).
  4. Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan (Slavin, 1996; Burden & Byrd, 1999; Silbernam, 1996; Dryden, 1999).

Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS adalah interest, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Reigeluth (1983) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai dengan minat/perhatian mereka. Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain, adalah:

  1. Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari biasa dalam pembelajaran. Strategi ini disebut synectics (Combs & Lush dalam Medsker & Holdsworth, 2001; ).
  2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya para siswa diajak diskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan pertanyaan atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan (Slavin, 1994;2006)
  3. Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran misalnya variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar (Gagne, 1985).
  4. Mengadakan komunikasi nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi untuk menarik minat/perhatian siswa (Gagne & Briggs (1979).

Komponen keempat model pembelajaran ARIAS adalah assessment, yaitu yang berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid (Slavin, 1994; 2004). Bagi guru, evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa; untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok; untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Bagi siswa, evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi.

Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya dan dalam pengembangan belajar atas inisiatif sendiri/self regulated learning (Slavin, 1994).

Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa, evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah: 1) dilihat dari bentuknya terdiri dari Paper and Pen, Performance, Product, Portofolio, dan Self Assessment (Depdiknas, 2004), 2) dilihat dari waktu pelaksanaannya terdiri dari awal program, saat program, dan di akhir program pembelajaran. Evaluasi saat program disebut juga formatif yaitu evaluasi terhadap apa yang sedang dipelajari siswa saat pembelajaran atau ‘how are doing?’, dan evaluasi akhir proses disebut juga sumatif yaitu evaluasi terhadap keseluruhan hasil yang didapat selama program pembelajaran atau ‘how did you do?’ (Slavin, 1994; 2004).

Komponen kelima model pembelajaran ARIAS adalah satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar, satisfaction sama dengan reinforcement (penguatan). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya (Gagne, 1977).

Berdasarkan teori motivasi, rasa puas dapat timbul dari dalam diri individu sendiri (intrinsik) dan dari luar diri individu (ekstrinsik). Secara intrinsik yaitu individu merasa puas dan bangga telah berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu. Sedang secara ekstrinsik yaitu individu merasa bangga dan puas karena apa yang dikerjakan dan dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal maupun nonverbal dari orang lain atau lingkungan.

  1. C.      Motivasi Berprestasi

Motivasi berprestasi merupakan bekal untuk meraih sukses. Sukses  berkaitan dengan perilaku ‘produktif dan selalu memperhatikan / menjaga ‘kualitas’ produknya. Motivasi berprestasi merupakan konsep personal yang inheren yang merupakan faktor pendorong untuk meraih atau mencapai sesuatu yang diinginkannya agar meraih kesuksesan. Untuk mencapai kesuksesan tersebut  setiap orang mempunyai hambatan-hambatan yang berbeda, dan dengan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, diharapkan hambatan-hambatan tersebut akan dapat diatasi dan kesuksesan yang dinginkan dapat diraih.

Dengan memiliki motivasi berprestasi maka akan muncul kesadaran bahwa dorongan untuk selalu mencapai kesuksesan (perilaku produktif dan selalu memperhatikan kualitas) dapat menjadi sikap dan perilaku permanen pada diri individu. Motivasi berprestasi akan dapat mendobrak building block ketahanan individu dalam menghadapi tantangan hidup  sehingga mencapai kesuksesan.

Weiner (1985) seorang ahli psikologi dari Amerika Serikat mengemukakan bahwa hal-hal yang menyebabkan kegagalan atau kesuksesan adalah : (1) usaha, (2) kemampuan. (3) orang lain, (4) emosi, (5) tingkat kesulitan tugas, dan (6) keberuntungan.    Berkaitan dengan usaha dan kemampuan, Bendura (1992) mengemukakan bahwa bila seseorang memiliki rasa yang kuat tentang kemampuan dirinya (self efficacy), maka akan mendesak usaha yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menantang dari pada orang yang memiliki keraguan diri akan kemampuannya. Adanya perasaan mampu (untuk berprestasi) yang dimiliki oleh seseorang, akan memberikan kontribusi yang sangat besar pada aspek percaya diri, yaitu bahwa ia akan merasa yakin dengan kemampuannya untuk dapat mencapai suatu prestasi tertentu.

Motivasi berprestasi adalah daya dorong yang terdapat dalam diri seseorang sehingga orang tersebut berusaha untuk melakukan sesuatu tindakan / kegiatan dengan baik dan berhasil dengan predikat unggul (excellent); dorongan tersebut dapat berasal dari dalam dirinya atau berasal dari luar dirinya. Mc.Cleland berpendapat bahwa pada intinya setiap manusia mempunyai 3 jenis motivasi sosial, yaitu : (1) motivasi berprestasi; (2) motivasi untuk berkuasa; dan (3) motivasi untuk berafiliasi. Dua dari ke-tiga motivasi tersebut obyeknya adalah berkaitan dengan manusia lain yang ada di lingkungannya, kecuali motivasi berprestasi yang berpijak pada dirinya sendiri. Untuk dapat membangun motivasi berprestasi, maka perlu mengetahui siapa dirinya dalam hubungannya dengan orang lain dimana mereka terlibat.

Motivasi, meskipun merupakan variabel yang penting dari prestasi / keberhasilan, bukanlah satu-satunya faktor. Sebagaimana dikemukakan diatas terdapat variabel-variabel lain seperti : usaha, kemampuan, emosi, orang lain dan keberuntungan.

Terdapat 3 macam motivasi dalam diri setiap orang termasuk pebelajar dan pembelajar, yaitu:

  1. 1.        Motivasi Berprestasi

Hasil penelitian Mc Cleland menunjukkan bahwa orang-orang yang berprestasi (berhasil dengan predikat unggul) mempunyai profil / karakteristik antara lain:

  1. Pada umumnya menghindari tujuan prestasi yang mudah dan sulit, mereka sebenamya lebih memilih tujuan yang moderat yang menurut mereka akan dapat diwujudkan atau diraih;
  2. Lebih menyukai umpan balik langsung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi;
  3. Menyukai tanggung jawab pada pemecahan masalah.

Orang-orang yang memiliki profil / karakteristik sebagaimana tersebut diatas tidak terlalu peduli atau menghiraukan orang lain.  Baginya yang panting adalah bagaimana caranya ia dapat mencapai suatu prestasi dengan predikat unggul dibandingkan dengan yang lain. Keinginan untuk memperoleh atau mencapai sesuatu yang lebih baik dari yang lain adalah merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga ia akan terdorong untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya tersebut. Kerangka berpikir orang-orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi adalah bagaimana usaha / perjuangan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu prestasi yang unggul.

  1. 2.        Motivasi Berafiliasi

Motivasi berafiliasi adalah dorongan untuk mencari hubungan keakraban, santai dan keharmonisan dengan orang-orang lain di lingkungannya. Baginya hubungan yang akrab, santai dan harmonis dengan orang lain merupakan tujuan utama dan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Orang-orang yang mempunyai motivasi berafiliasi tinggi biasanya dapat menjadi seorang teman yang baik dan mempunyai banyak teman, karena ia selalu hangat, toleran dan sangat perhatian / peduli pada orang lain (empati).

 

  1. 3.        Motivasi Berkuasa

Motivasi berkuasa adalah dorongan untuk ingin menguasai atau mendominasi orang lain dalam suatu hubungan sosial di masyarakat. Orang yang mempunyai motivasi berkuasa yang tinggi biasanya cenderung berperilaku otoriter, yang penting bagaimana caranya agar bisa menguasai / menggerakkan orang lain, sehingga orang lain kagum pada dirinya. Ada kepuasan tersendiri bila ia dapat bertindak dan berkuasa atas orang lain.

Ketiga jenis motivasi tersebut di atas kiranya sangat diperlukan dalam mencapai keberhasilan dalam belajar. Ketiga motivasi tersebut ada pada diri setiap orang dan biasanya hanya satu yang dominan, dan akan nampak dalam perilaku keseharian.   Untuk mengetahui tinggi rendahnya suatu jenis motivasi yang dimiliki oleh seseorang digunakan instrumen psikologi yang dapat mengindikasikan bahwa seseorang mempu-nyai tingkat motivasi berprestasi / berafiliasi/berkuasa tinggi atau rendah.

Untuk menjadi pebelajar dan pembalajar yang memiliki motivasi berprestasi secara unggul, maka diperlukan pemahaman diri yang utuh dan benar. Pemahaman atas diri sendiri ini disebut dengan konsep diri.

Salah satu kriteria kesuksesan dalam membina hubungan dengan orang lain adalah bagaimana kita mengetahui siapa diri kita (who am I ?) khususnya dalam hubungannya dengan orang lain di mana mereka terlibat di dalamnya. Secara umum konsep diri didefinisikan sebagai pandangan dan perasaan individu tentang dirinya yang mencakup : komponen kognitif dan afeksi. Komponen kognitif disebut sebagai ‘citra diri’ (self image) sedangkan komponen afektif disebut dengan ‘harga diri’ (self esteem). Contoh pernyatan berikut : “saya ini orang bodoh” adalah sebagai komponen kognitif, sedangkan komponen afektifnya adalah “saya malu sekali karena saya menjadi orang bodoh”. Kedua komponen tersebut sangat berpengaruh pada pola hubungan dengan orang lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu : orang lain dan kelompok rujukan.

  1. a.    Orang lain

Dalam hubungannya dengan orang lain, jika kita diterima, dihormati dan disenangi orang karena keadaan diri kita, maka kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, maka kita akan cenderung tidak menyenangi diri kita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain (orang yang terdekat) cenderung mempunyai konsep diri yang baik pula. Konsep diri bukan merupakan fakta yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan faktor yang dapat dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam hubungan-nya dengan individu lain.

  1. b.   Kelompok Rujukan

Dalam pergaulan bermasyarakat, kita menjadi anggota berbagai kelompok masyarakat.  Setiap kelompok akan mempunyai norma-norma tertentu yang harus dipatuhi oleh anggota kelompoknya. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita.  Kelompok rujukan ini merupakan kelompok yang dapat mengarah-kan perilaku para anggota kelompoknya. Kalau kita menjadikan kelompok Ikatan Dokter Indonesi (IDI) menjadi kelompok rujukan kita, maka norma-norma dalam IDI menjadi ukuran dan acuan perilaku kita.

Konsep diri berarti ramalan yang dipersiapkan untuk diri sendiri atau dapat menggambarkan secara obyektif diri individu sebagaimana diramalkan; karena ketika seseorang membentuk konsep dirinya, maka berarti ia mendefinisikan dirinya dan membuat janji bahwa ia akan melanjutkan menjadi dirinya seperti sekarang atau seperti yang lalu.  Hal tersebut menunjukkan bahwa penghargaan terhadap dirinya dapat menentukan bagaimana seseorang bertindak dalam hidupnya. Bila seseorang berfikir bahwa ia mungkin gagal, maka sebenamya ia mempersiapkan dirinya untuk gagal, sebaliknya bila berfikir akan berhasil dan sukses, maka berarti ia mempersiapkan diri untuk berhasil dan sukses.

Penutup

Kajian psikologi pendidikan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan pendidikan pada umumnya dan pembelajaran secara khusus. Semakin lama, perkembangan pembahasan psikologi juga merambah pada pemilihan dan penentuan sekaligus modifikasi-modifikasi model pembelajaran. Modifikasi model pembelajaran diharapkan menjadi salah satu alternative untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, kemudian dengan sendirinya bisa menggugah dirinya untuk berprestasi.

Oleh karena itu, model pembelajaran sebagai salah satu dari sekian banyak faktor penentu keberhasilan belajar perlu disesuaikan dengan kondisi siswa dan materi pelajaran yang ada. Dengan demikian, tanggung jawab dan tugas pendidik semakin besar, salah satunya dalam rangka mengupayakan model-model yang applicable dan suitable bagi siswa mereka agar hasil belajar siswa bisa meningkat secara gradual namun pasti. Atas dasar realitias yang ada, tidak salah, jika kemudian muncul statement bahwa menjadi guru adalah pekerjaan tersulit dimuka bumi ini.

DAFTAR RUJUKAN

 

Beck. Robert C. (ed.), Motivation-Theories and Principles, New Jersey : Prentice Hall Inc. 1990.

Burden, Paul R. and Byrd, David M. 1999. Methods for Effective Teaching, second edition. Boston, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore: Allyn and Bacon.

Corno, L. & Mandinach, E. (1983). The role of cognitive engagement in classroom learning and motivation. Educational Psychologist, 18, 88-108.

Depdiknas. 2004. Penilian Berbasis Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit KAIFA.

Gagne, R.M. 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction. Fourth edition. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Gagne, R.M. and Briggs, L.J. 1979. Principles of Intstructional Design, New York: Holt, Rinehart and Wonston.

Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning: What it is and Why it’s here to stay. California: Corwin Press, Inc.

Koes wara. 2006. Motivasi teori dan Penelitiannya. Bandung: Angkasa raya.

Medsker, Karen L. and Holdsworth, Kristina M. 2001. Models and Strategies for Training Design. United State of America: International Society for Performance Improvement.

Morris,L.G. 1995. Psychology; An Introduction. Fifth edition. Englewood Cliffs, N,J: Prentice Hall

Novian, Triwidia Jaya. 2010. Hypnoteaching; Bukan sekedar Mengajar. Jakarta: DBrain Press.

Pajares, F. (2004). Albert Bandura: Biographical sketch. Retrieved month day, year, from http://des.emory.edu/mfp/bandurabio.html. Diakses tanggal 5 Desember 2010

Keller, J., 1987. The Systematic Process of Motivational Design. Performance and Instruction, 26 (8), 1-7.

Reigeluth, Charles M. 1983. Instructional Design Theories and Models: An Overview of their Current status. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Step to Teach Any Subject. Massachusetts: A Simon and Schuster Company.

Slavin, Robert E. 1996. Educational Psychology; Theory and Practice, fourth edition. United States of America: Allyn and Bacon.

Slavin, Robert E. 2004. Educational Psychology. eighth edition. United States of America: Allyn and Bacon.

Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Winardi, S,  2002. Motivasi dan pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s